Tag Archives: KRLmania

Commuter Line #3 : “Pak, Bangun. Sudah Sampai.”

Standard

Pagi ini seperti biasa, dengan setia saya masih naik Commuter Line ini. Walaupun harga tiketnya sudah naik Rp. 2000 perak jadi sekarang Rp. 8000. Tapi pelayanannya masih nggak ada peningkatan dan bahkan belakangan ini semakin buruk. Nah lho, jadi curhat. Hahaha Segimana pun saya ngomel-ngomel tentang pelayanan KRL tapi tetep sih tiap hari saya masih setia pulang-pergi ke kantor pakai moda angkutan ini. Cepat dan nggak macet (KALAU kondisi KRL lagi oke).

Ada kejadian menarik di dalam kereta pagi ini. Hampir setiap pagi saya selalu naik di gerbong yang sama. Saya berangkat pagi jam 5.38 dari stasiun Universitas Indonesia. Jadi hampir semua penumpang yang beruntung mendapatkan kursi dan naik dari stasiun Depok Lama sudah pasti tidur. Kebanyakan adalah karyawan dan beberapa ada anak usia sekolah SD atau SMP.

Pagi ini sampai stasiun Manggarai, ada seorang bapak yang berdiri dari kursinya dan membangunkan bapak dan dua orang anaknya yang masih tertidur. “Pak, pak, Bangun. Sudah sampai stasiun Manggarai”. Si bapak dan dua anaknya langsung bangun dan turun dari kereta. Saya langsung berpikir, wah, di kereta ini banyak selali pelajaran yang bisa didapat. Mulai dari saling peduli dengan sesama, contohnya bapak yang membangunkan bapak yang tertidur. Karena hampir setiap hari ketemu di dalam kereta, mungkin juga tidak saling kenal dan tidak pernah ngobrol sebelumnya, tapi masih saling peduli dengan sesama.

Ah, indahnya pelajaran hari ini. Selamat pagi. ๐Ÿ™‚

Advertisements

Commuter Line #2 : Pak Ismail

Standard

Saya memang sangat akrab dengan moda transportasi satu ini, setiap hari berangkat kerja dan ke kampus saya selalu menggunakan jasa Commuter Line atau yang biasa disebut kereta listrik. Saya juga sudah pernah posting sebelumnya di Naik apa di Jakarta?ย 

Setiap hari naik kereta membuat saya mengalami banyak kejadian. Ada cerita lucu karena ada yangย kentut di kereta. Ada susahnya kalau keretanya telat, AC nya mati dan penumpangnya bejibun. Ada juga kejadian senang, ketemu orang-orang baru mulai dari supir, penjual kaki lima, orang kantoran sampai manager juga ada. Lengkap deh pokoknya di kereta. ๐Ÿ˜€

Di kantor saya sendiri banyak banget yang naik kereta. Jangankan karyawan biasa seperti saya, bos saya aja naik kereta lho. Karena memang lebih cepat, terhindar dari macet dan stres karena padatnya jalanan di Jakarta.

Kalau saya berangkat kerja selalu naik kereta yang AC jam 5.39 pagi dari stasiun Universitas Indonesia karena keretanya lebih lega dan nggak empet-empetan. Sedangkan pulangnya saya punya dua pilihan. Kalau saya ada kuliah, saya naik kereta ekonomi jam 16.03 dari stasiun Sudirman. Tapi kalau tidak ada jadwal kuliah saya naik kereta AC jam 16.49.

Karena semester kemarin jadwal kuliah lumayan padat, jadi saya lebih sering naik kereta ekonomi jam 16.03. Saya selalu naik di gerbong kedua di pintu pertama. Saking seringnya saya naik di gerbong kedua, saya sampai punya kenalan. Namanya pak Ismail. Bapak ini baiiiik banget. Kenapa saya bilang baiknya dengan “i” yang banyak? Karena memang pak Ismail ini baik banget sama saya. Setiap saya naik kereta, pak Ismail ini dengan baik hati memberikan tempat duduknya untuk saya.

Pak Ismail naik kereta dari stasiun Tanah Abang, dari sana memang masih sedikit kosong jadi pak Ismail bisa duduk dengan lega.ย Saya sebenarnya tidak enak, tapi pak Ismail setengah memaksa saya. Dan saya jadi nggak enak menolak.

Sejujurnya saya baru tadi sore tahu nama beliau adalah pak Ismail. Padahal sudah sering sekali saya diberi tempat duduk. Aiih, jadi malu. Tapi setidaknya sekarang sudah tau namanya. Ketika ngobrol-ngobrol dengan beliau, pak Ismail ini sekarang usianya 63 tahun. Sama usianya dengan papa saya. Dan beliau masih sehat dan tidak terlihat seusia beliau seharusnya. Kalau saya menilai, beliau orangnya punya jiwa muda dan tidak ambil pusing kalau ada masalah. Jadilah beliau tidak mudah stres dan masih awet muda.ย Anak beliau ada 5 orang. Dan saya seumuran anaknya yang kelima. Saya jadi teringat papa saya karena beliau seumuran dengan papa.

Semenjak kenal dengan beliau, yang biasanya saya parno dan takut naik kereta ekonomi sekarang lebih tenang karena merasa ada kenalan satu gerbong ๐Ÿ˜€ Mudah-mudahan kebaikan pak Ismail dibalas oleh Allah.SWT dengan yang lebih baik , beliau diberikan kesehatan, dan semakin taat kepada Allah.SWT, amin ๐Ÿ™‚

Terima kasih, pak Ismail ๐Ÿ™‚

Commuter Line #1 : Kentut

Standard

Pagi itu saya bangun kesiangan, biasanya saya naik Commuter Line atau yang biasa kita sebut KRL (Kereta Listrik) jam 5.38 di stasiun Universitas Indonesia menuju Sudirman, Nah karena kesiangan saya naik KRL 06.06 di stasiun dan tujuan yang sama. Walaupun bedanya cuma 28 menit, tapi jumlah penumpangnya beda jauh, KRL jam 06.06 ini jauh lebih padat dari yang biasa saya naik jam 5.38, ini juga alasan kenapa saya prefer bangun lebih pagi daripada berdesak-desakan dengan penumpang lainnya.

Sampai di stasiun Cawang, penumpang sudah mulai turun. Ketika mulai jalan lagi menuju stasiun Tebet, tiba-tiba ada aroma tidak sedap khas aroma sakit perut mules. Yuks! Saya dengan refleks menutup hidung saya dengan jaket yang saya pegang. Bukan hanya saya, mbak-mbak yang berdiri di sebelah saya juga menutup hidungnya. Saya tidak mau menuduh siapa-siapa. Kalau benar itu bau kentut salah seorang penumpang, itu luar biasa membuat saya eneg pagi itu. Tidak hanya sekali, waktu KRL berhenti di stasiun Tebet, aroma yang sama kembali merebak. Aiiih! Ini sepertinya yang menebar aroma benar-benar sudah tidak sanggup menahan hasrat ingin kentutnya.

Seperti apa baunya?
Hmm sepertinya seseorang sedang mules, malemnya mungkin seseorang itu sudah melahap mie rebus super pedas atau mungkin kripik super HOT dan benar-benar sudah tidak tahan lagi ingin ketemu toilet.

Yuks! Mengingat-ingat kembali saya jadi geli sendiri ๐Ÿ˜€