Category Archives: Habit

Jangan Mudah Terprovokasi Judul Berita

Standard

Setelah hiberhasi dari dunia Facebook hampir 3 tahun, akhirnya beberapa bulan yang lalu saya mulai buka Facebook lagi. Tapi sepertinya waktunya nggak tepat. Karena waktu saya mulai buka Facebook, pas lagi panas-panasnya masalah pemilihan Gubernur Jakarta. Dan Feeds Facebook saya isinya luar biasa membuat tidak nyaman.

Saya selalu berusaha untuk berpikir logis, netral dan tidak berpihak kepada kubu manapun. Saya cuma nggak suka ada postingan sumpah serapan, perang komen antar kawan, dan menyebarkan berita hoax di Feeds saya. Saya lebih suka Feeds Facebook saya isinya video-video inspiratif dan menambah ilmu. Ini alasan kenapa saya buka Facebook lagi, karena banyak juga teman-teman di Facebook yang posting hal-hal baik dan bermanfaat.

Saya melihat beberapa orang kawan di Facebook “rajin” memposting sumpah serapah dan yang “hobi” memposting hoax yang bahkan judul berita dan isi berita yang mereka posting kebanyakan nggak nyambung. Tapi dikasih caption penuh kemarahan dan captionnya nggak nyambung juga. Akhirnya saya memutuskan untuk unfriend. Yeah, I’m that cold.

Media massa memang kebanyakan judulnya dibuat provokatif biar orang-orang penasaran buat buka linknya. Makanya sebagai “kids jaman now”, seharusnya linknya dibuka dulu  biar paham isi beritanya. Tapi kesel juga sih sama judul berita media massa, clickbait banget!pic 5

 

Sumber : Think before you share

So, please please please banget. Sebelum posting apapun, tolong pikirkan baik-baik dulu. Paling tidak baca dulu beritanya, trus cari kebenarannya. Jangan asal-asal posting sembarangan. Harus punya rasa tanggung jawab terhadap apa yang diposting. Jangan sampai menggiring orang lain ke informasi yang salah.

Mohon maaf jika ada kalimat yang tidak berkenan. Tidak bermaksud untuk menyerang siapapun, hanya ingin mengingatkan supaya Indonesia menjadi lebih baik.

-Winda-

Advertisements

Commuter Line #3 : “Pak, Bangun. Sudah Sampai.”

Standard

Pagi ini seperti biasa, dengan setia saya masih naik Commuter Line ini. Walaupun harga tiketnya sudah naik Rp. 2000 perak jadi sekarang Rp. 8000. Tapi pelayanannya masih nggak ada peningkatan dan bahkan belakangan ini semakin buruk. Nah lho, jadi curhat. Hahaha Segimana pun saya ngomel-ngomel tentang pelayanan KRL tapi tetep sih tiap hari saya masih setia pulang-pergi ke kantor pakai moda angkutan ini. Cepat dan nggak macet (KALAU kondisi KRL lagi oke).

Ada kejadian menarik di dalam kereta pagi ini. Hampir setiap pagi saya selalu naik di gerbong yang sama. Saya berangkat pagi jam 5.38 dari stasiun Universitas Indonesia. Jadi hampir semua penumpang yang beruntung mendapatkan kursi dan naik dari stasiun Depok Lama sudah pasti tidur. Kebanyakan adalah karyawan dan beberapa ada anak usia sekolah SD atau SMP.

Pagi ini sampai stasiun Manggarai, ada seorang bapak yang berdiri dari kursinya dan membangunkan bapak dan dua orang anaknya yang masih tertidur. “Pak, pak, Bangun. Sudah sampai stasiun Manggarai”. Si bapak dan dua anaknya langsung bangun dan turun dari kereta. Saya langsung berpikir, wah, di kereta ini banyak selali pelajaran yang bisa didapat. Mulai dari saling peduli dengan sesama, contohnya bapak yang membangunkan bapak yang tertidur. Karena hampir setiap hari ketemu di dalam kereta, mungkin juga tidak saling kenal dan tidak pernah ngobrol sebelumnya, tapi masih saling peduli dengan sesama.

Ah, indahnya pelajaran hari ini. Selamat pagi. 🙂

Maag dan Alergi Obat

Standard

Entah dosa apa, semalem saya lagi-lagi harus ke UGD RS Mitra Keluarga Depok lagi. Dan lagi-lagi merepotkan kang Robby, sahabat yang baik hati ini. Punten ya kang Robby, aku ngerepotin terus. Semoga kebaikannya dibalas yang setimpal oleh Allah. SWT, amin. Lucky me to have a best friend like  you 🙂

Jadi sebenernya awalnya itu sakit perut mulai dari siang, karena memang nggak makan nasi pas siangnya. Males keluar karena lagi asyik ngerjain skripsi sama Kartika dan Erwita, jadi delivery pizza. Kenyang banget sih sebenernya makan pizza segitu, tapi karena perutnya memang ndeso, harus makan nasi kalo enggak dia ngambek. Dan bener aja, sore mulai sakit perut. Saya ngesot deh ke kantin dekat kosan, pesan nasi goreng dan kelapa muda murni.

Sebenarnya pas makan sih biasa-biasa saja, setelah sholat magrib, trus sholat isya, kok perut makin sakit? Sakitnya di sebelah kanan atas. Dan ini bukan untuk yang pertama kalinya. Sudah sering dan sudah pernah juga periksa ke dokter penyakit dalam dan disuruh USG. Karena dikhawatirkan empedu, ginjal atau hati atau liver saya yang sebenarnya sakit. Alhamdulillah dari hasil USG saya baik-baik saja. Semua normal. Puji syukur kepada Allah. SWT 🙂 Yeay! Jadi memang sepertinya yang bermasalah perut saya, tapi kok ini ya sebelah kanan atas. Waktu tanya ke dokter, dia cuma menyimpulkan itu karena maag. Honestly, saya masih bingung. Tapi ya sudahlah yah, minum obatnya saja. Alhamdulillah sembuh. Dan memang akan selalu kambuh kalau saya makannya telat dan tidak teratur.

Nah, lanjut yang semalem, setelah sakit perut yang amat sangaaaat luar biasa itu. Saya berusaha mengalihkan perhatian dengan nonton, tapi nggak bisa konsentrasi  (padahal udah download The Big Bang Theory season 8 sampe episode 8), saya olesi balsem aja perutnya dan berusaha untuk tidur lebih awal. Jam 21.30 gitu saya sudah di dalem selimut sambil guling-guling nggak jelas karena nggak ada posisi tidur yang membuat perut ini nyaman. Miring ke kanan makin sakit karena ada di posisi kanan sakitnya, miring ke kiri sakit juga, tengkurep nggak membantu juga, telentang apalagi. Perut kayak yang ketarik gitu. Trus akhirnya saya duduk maksudnya kali-kali mendingan. Tapi nggak membantu juga. Biar ngantuk, akhirnya saya jalan-jalan keliling kamar saya yang nggak seberapa besarnya ini, tujuannya biar capek trus jadi ngantuk. Dan setelah belasan kali jalan pun, nggak ada bedanya.

Saya akhirnya ingat masih ada Ranitidin obat lambung di tas. Obat yang dulu pernah dikasih sama dokter di RS yang sama sebelumnya, tapi baru diminum 2 kali saja. Obatnya dikasih bulan juni 2012, pas saya cek expired date nya ternyata masih bisa sampe 2015. Saya langsung minum obatnya dan kembali jalan muterin kamar. Nggak lama setelah itu, langsung rasanya mau muntah. Akhirnya saya paksa buat muntahin, sampe obatnya pun berasa tuh pahit keluar lagi. (Maaf ceritanya jijaay yah)

Sepertinya saya muntah sampai semua makanan yang tadi sore saya makan habis dari perut. Nasi goreng dan kelapa muda murni itu udah nggak bersisa sepertinya. Setelah muntah-muntah, muka rasanya perih, panas, gatal dan berasa bengkak. Saya langsung ngaca dan kaget. Bener aja, muka saya alergi sepertinya. Dan jam sudah menunjukkan pukul 22.30, akhirnya langsung minta tolong kang Robby untuk mengantar ke UGD RS Mitra Keluarga Depok. Sekali lagi, hatur nuhuuun pisan ya kang 🙂 (Kenapa nggak naik taksi? Boro-boro berani naik taksi jam segitu sendirian, jalan keluar gang untuk nyegat taksi pun saya nggak berani -____-“)

Di UGD saya akhirnya disuntik obat alergi. Sekitaran setengah jam kemudian, muka sudah nggak bengkak dan gatel lagi. Tapi bekas bintik-bintik di sekitaran mata dan pipi masih ada. Dokter jaganya juga masih belum tahu itu alergi apa. Karena kalau dibilang alergi Ranitidin, sebelumnya saya sudah pernah minum obat itu dan tidak ada efek alergi seperti sekarang. Ya sudahlah yah, sepertinya penyakit saya memang suka aneh dan nggak ada penjelasannya. Jadi sudah boleh pulang dan dikasih obat alergi dan maag.

Semalem sebelum tidur saya ngaca dan berdoa dulu semoga besok muka udah nggak bintik-bintik lagi dan normal lagi seperti semula. Trus tadi bangun tidur, saya langsung ngaca lagi dan taraaaaaa…. bintik-bintiknya belum hilang 😐 Mulai panik lagi telpon mama, papa, dan kakak. Dan kata mama dan kakak, “Mungkin sebelumnya kamu cocok aja sama obat itu, tapi sekarang kondisi badan lagi nggak oke, jadi lemah. Obat hilangin bintik-bintiknya nggak ada. Dibiarin aja, nanti juga hilang sendiri kok”. Baiklah, sabar sabar sabaaarr… *ngomong sama kaca*

Well, sekian dan terima kasih.

Selamat berlong wiken, semoga liburannya menyenangkan, yang sakit disembuhkankan, yang sedih diberikan kebahagiaan, yang mukanya bintik-bintik disembuhkan dan mulus lagi, amin.

“Ya Allah… Saya minta maaf kalau banyak salah dan dosa, semoga ini sebagai peluruh dosa, amin”.

GEA (GASTROENTERITIS AKUT)

Standard

Setelah tepar dua hari di kosan, akhirnya hari ini ngantor juga. Yeay!

Jadi selasa pagi pas mau mandi, saya mulai muntah-muntah dan buang air besarnya cair (maaf). Kepala mulai kleyengan. Saya pikir, sepertinya nggak apa-apa, nanti siang juga baikan. Dan saya kekeuh ke kantor (semoga bos saya baca postingan ini) *ngarep* hehehe Sampai di kantor bukannya baikan, saya malah makin sering bolak-balik toilet dan semakin pusing. Akhirnya saya memutuskan untuk ijin ke bos dan langsung ke rumah sakit. Sampai rumah sakit, saya rasanya sudah mau pingsan. Disuruh isi formulir asuransi saja tangan saya sudah gemeteran dan akhirnya minta bantuan petugasnya. Alhamdulillah saya nggak antri ke dokter umumnya. Setelah diperiksa, dokter umumnya menyarankan saya untuk diinfus karena saya sudah dehidrasi. Dan nggak usah ditanya lagi gimana rasanya diinfus, seumur-umur baru dua kali diinfus dan nggak ada yang nggak sakit rasanya!

Saya sudah deg-degan aja tuh. Ini saya akan dirawat inap atau tidak? Kalaupun disuruh rawat inap, sepertinya saya mau ngeles gimanapun caranya agar nggak rawat inap. Jangankan rawat inap, baru masuk UGD pas mau diinfus saja saya sudah muntah. Bau lantai rumah sakit kan nggak enak dan bikin mual. Alhamdulillah pas sudah selesai diinfus dan disuntik obat-obatan, saya sudah mulai merasa lebih baik dan diijinkan pulang.

Diagnosa dokter, saya sakit GEA (GASTROENTERITIS AKUT) sejenis diare akut. Kata dokternya, penyebabnya karena infeksi pada saluran pencernaan yang disebabkan oleh bakteri, parasit ataupun virus. Nah lho, saya kemarin makan apa coba? Saya makan ayam rica-rica, tapi temen saya yang lain yang makan ayam rica-rica nggak apa-apa tuh. Berarti memang kondisi tubuh saya yang sedang tidak fit dan mudah diserang oleh bakteri tersebut. Akibatnya, saya diare, muntah dan demam.

Alhamdulillah, hari ini sudah merasa lebih baik. Sudah tidak membuat orang rumah panik lagi. Maaf sudah merepotkan orang-orang disekitar saya. Makasih mbak Kiki sudah masakin bubur 🙂 Si Meng langsung serius googling cari info catering  harian yang bisa delivery ke kantor saya. Hahaha Maacih, Meng! 🙂

STOP KEPO!

Standard

Saya mungkin adalah orang yang sering nggak update dengan informasi di sekeliling saya. Umm, let’s say gossip. Contohnya : saya seringnya baru tahu temen-temen saya mau resign pas hari H dia kirim farewell email. Atau dikasih tahu teman.

Temen : “Si X pindah kemana sih?”
Saya : “Eh? Emang dia mau resign?”
Temen : “Yee, udah dari sebulan yang lalu kali gossipnya”.

Temen : “Si X kan udah putus dari pacarnya”
Saya : “Masa? Gue yang sedepartemen aja nggak tau”.
Temen : “Yaelah, udah dari bulan kapan”.

Temen : “Eh, si X pindah ke perusahan Y, jadi engineer sekarang. Gajinya Rp. XXX lho! Keren yah?”
Saya : “Kok lo ampe tahu ampe gajinya segala sih?”
Temen : “Gue nanya lah”.

Gila yah, sedetail itu kah? Ampe nanyain gaji segala?? Yassalam. Itu kan confidential banget.

Kenapa sih ada orang yang selalu ingin tahu urusan pribadi orang lain? Kayaknya tuh nggak tenang aja kalau lihat orang bisik-bisik atau angkat telpon. Bukannya sok-sokan, tapi apapun itu kan urusan pribadi masing-masing. Buat saya pribadi, selama tidak mengganggu saya, ya silahkan saja mau orang-orang punya rahasia segimana juga. Toh, nggak menyakiti dan merugikan saya. Dan yang membuat saya tidak suka mikirin dan ikut campur urusan orang lain adalah “Saya nggak mau urusan saya dicampuri orang lain, maka saya juga tidak akan mencampuri urusan orang lain”. Lagian ngapain sih mikirin urusan orang, memangnya urusan situ udah kelar? Nambah pusing aja kan? Mending urus urusan sendiri. Nggak ada untungnya tahu urusan orang lain. Serius.

Ngomong-ngomong tentang kepo gaji, Mama saya sendiri nggak tahu gaji saya berapa. Karena mama saya sama seperti saya, menurut dia itu cukup jadi rahasia saya saja. Dia nggak pernah nanya. Karena dia menghargai saya.

Sekarang lagi seringnya dicurigai kalau tetiba ada temen yang terima telpon trus keluar ruangan. Pasti dituduh telpon interview perusahaan lain. Mungkin memang ada yang seperti itu, tapi nggak semua yang menerima telpon di luar ruangan berarti telpon interview. Trus kalau tetiba ada yang nggak masuk kantor, seperti saya yang sering tiba-tiba cuti karena ada urusan skripsi ke kampus, pasti besoknya pas masuk ditanya, “Gimana interviewnya kemarin, Win?”. Meh! Saya biasanya jawab lempeng, “Lancar jaya!” 😀

Dear kepoers,
Sudahi kebiasaan kepo anda, sesungguhnya kepo bukanlah sebagian dari iman.

STOP KEPO!

Demam Gangnam Style

Standard

Tuh, lagi-lagi saya kamseupay. Nggak gaul kalau kata teman saya. Kalau dulu saya nggak tau arti “kamseupay“, sekarang saya nggak tau apa itu “Gangnam Style”. Saya baru sadar sama Gangnam Style ini pas baca di timeline twitter banyak yang ngetweet Gangnam Style. Trus display picture dan status blackberry messanger orang-orang juga berhubungan dengan Gangnam Style ini. Baru saya penasaran, apa sih Gangnam Style?

Iseng sambil mengantri di Rumah Sakit, saya membuat status di twitter :

Inilah jawaban beberapa dari teman-teman saya :

Penasaran, akhirnya saya langsung browsing di youtube 😀 Tapi nggak bisa upload di sini karena filenya lumayan besar sizenya. Yang mau lihat langsung di youtube, link nya di sini : http://www.youtube.com/watch?v=9bZkp7q19f0

Sejujurnya saya tidak tertarik dengan hal-hal berbau Korea. Mau film drama nya atau boyband dan girlsband nya. No offense 🙂 Bukan karena apa-apa, karena mungkin selera saya aja kali yah yang katro. Hehehe Kalau disuruh dengerin boyband Korea, saya lebih memilih nonton Coboy Junior  (boyband anak Indonesia yang personilnya lucu-lucu dan suaranya bagus). Saya katro, yah? Hehehe Nggak apa-apa, namanya juga selera masing-masing. Bebas mau suka yang mana saja toh? 🙂

Eh tapi, Gangnam Style ini kocak juga. 😀

Takut dengan Rumah Sakit

Standard

Nama saya Winda Wulandari. Umur 23 tahun. Cita-cita ingin menjadi dokter.  Telat yah? Hehehe Sebenernya dulu saya memang ingin menjadi seorang dokter. Apa daya, tidak sesuai dengan kemauan saya, tapi Allah.SWT memberikan yang lebih baik untuk saya. Alhamdulillah 🙂

Kalau saya pikir-pikir, memang saya sepertinya tidak cocok menjadi seorang dokter. Dan aneh juga kenapa cita-cita saya dulu ingin menjadi dokter. Karena faktanya adalah saya adalah orang yang sangat lebay dengan kebersihan. Nggak mau masuk ke toilet umum yang menurut saya jorok dan bisa dikatakan saya parno dengan rumah sakit. Lha, gimana mau kerja di rumah sakit kalau saya anti rumah sakit.

Awalnya, karena dulu waktu saya kecil, setiap kali akan menjenguk saudara yang dirawat di rumah sakit, saya pasti tidak diijinkan masuk. Kata orangtua saya, “anak kecil nggak boleh masuk, soalnya banyak kuman dan penyakit. Nanti menular”. Jadi, akhirnya saya menunggu di mobil saja. Trus ketika sudah SMP, saya sudah boleh ikut menjenguk ke dalam kamar pasien. Tapi setelah saya sampai di rumah, orang tua langsung menyuruh saya mencuci tangan dengan sabun.

Sebenarnya apa yang disuruh orang tua saya itu benar, karena anak kecil rentan terhadap penyakit dan di rumah sakit itu ada banyak pasiennya dengan beragam penyakit. Tapi yang saya tangkap malah berbeda. Saya jadi benar-benar parno dengan rumah sakit. Saya nggak tahan berlama-lama di rumah sakit. Minum atau makan pun saya nggak mau. Boro-boro makanan dari rumah sakit, makanan yang dibawa dari luar dan dimakan di rumah sakit saja saya nggak mau. Karena yang ada dipikiran saya adalah bakteri, virus, kuman yang berterbangan di mana-mana dan lantai yang berbau cairan pembersih lantai yang membuat saya mual.

Tapi semua memang di luar kemampuan kita, pada akhirnya saya sendiri dirawat di rumah sakit, sekitar 3 hari. Hari pertama saya menolak makan makanan dari rumah sakit dan membawa makanan sendiri. Dari kedua, saya diinfus seharian dan tidak boleh makan. Dan hari ketiga, karena sudah kelaperan nggak dikasih makan, jadilah mau nggak mau saya makan makanan rumah sakit.

Kedua kali saya menginap dan makan di rumah sakit waktu pacar saya, si Meng operasi amandel. Jadi saya menemani di rumah sakit. Sebenarnya kalau makannya, saya makan di  rumah makan yang tidak jauh dari rumah sakit. Luckily, ada rumah makan dekat sana. 😀

Selain saya, keponakan saya, Naufal 9 tahun, juga parno dengan rumah sakit. Padahal papanya seorang dokter yang setiap hari memang akan berada di rumah sakit dan bertemu pasien. Sama seperti saya, yang ada di pikiran Naufal adalah banyak sekali bakteri, virus dan penyakit di rumah sakit, dan dia tidak mau tertular. Jadi pernah waktu papanya pulang dari rumah sakit masih menggunakan jas dokternya, Naufal mengunci pintu tidak mengijinkan papanya masuk rumah. Katanya, “papa kan dari rumah sakit habis ketemu pasien, jadi harus lepas dulu jas dokternya baru boleh masuk rumah”. Itu pun papanya disuruh langsung mandi. 😀

Pernah juga sekali, handphone Naufal terbawa sama mamanya ke rumah sakit karena mamanya juga kerja di rumah sakit, setelah itu Naufal nggak pernah mau lagi menggunakan handphonenya itu. Katanya banyak kuman. 😀 Sebenarnya cita-cita awal Naufal ingin menjadi dokter spesialis bedah tulang. Dan baru tahun ini dia berubah pikiran, dia bilang mau jadi presiden. 😀

Semoga parno dan kelebay-an kami ini segera terobati deh yah. Nggak kebayang suatu saat nanti ketika saya akan menjadi ibu dan melahirkan, masa saya melahirkan di rumah? 😀