Monthly Archives: December 2012

Tuntaskan Skripsi #7 : One Step Closer

Standard

Alhamdulillah…
Alhamdulillah…
Alhamdulillah…
Alhamdulillah wasyukurillah
Terima kasih Allah. SWT atas segala kemudahan yang diberikan-Nya. Semoga Allah. SWT tidak henti- hentinya melimpahkan rahmat-Nya untuk kita, amin

Akhirnya jumat, 21 Desember 2012, saya, Tika, Iwit dan teman – teman kelas sudah daftar untuk sidang skripsi. Lalu kemarin, kamis, 27 Desember 2012, saya dan teman – teman sudah mengumpulkan softcover untuk karya tulis. Dan sekarang tinggal menunggu jadwal sidang. Insyaallah minggu kedua januari saya akan sidang skripsi bersama Tika dan Iwit. Sekali lagi mohon doanya teman – temaaan… ๐Ÿ™‚

Ya Allah, SWT…
Hamba mohon ijin-Mu agar hamba dapat menghadapi sidang skripsi hamba dengan baik. Hanya Engkau yang maha baik dan mengabulkan permintaan hamba-Mu, amin ๐Ÿ™‚

Daaaan, as always saya nggak mau ketinggalan untuk foto – foto momen bersejarah… hehehe

Pas mau foto ini, ketahuan sama Ncum & Frans. Kata si Frans, "pasti buat blog" Hahaha Tau aja!

Pas mau foto ini, ketahuan sama Ncum & Frans. Kata si Frans, “pasti buat blog” Hahaha Tau aja!
Abaikan muka saya yang kucel dan rambut yang berantakan. Abis naik ojeg ke Pocin buat ngejilid karena jilid di kampus udah penuh.

Tuntaskan Skripsi #6 : H-9

Standard

H-9??? udah sampe mana?? Masih aja ada yang nanya ini lho. Dan saya rasanya mau teriak aja rasanya nunggu “pecah bisul” ini. Alhamdulillah semua data percobaan sudah beres, sedang diolah semua datanya. Sekarang saatnya menyelesaikan karya tulis. Karena sudah H-9, saya memutuskan untuk mengambil cuti. “Emang cuti lo masih ada?”, kata temen kantor. Sisa 2 hari lagi sih T-T *mimisan* Jadi mau nggak mau saya memutuskan juga mengambil unpaid leave, cuti nggak dibayar gitu alias potong gaji. Nggak apa-apa dah, cuma 2 hari ini. Lagian kan selasa, 25 desember memang tanggal merah. Trus jumat minggu depan saya friday off (setiap 2 kali seminggu saya jumatnya off). Tapi konsekuensinya untuk membayar friday off itu kan tiap minggu seharusnya saya nambah jam 1 jam perhari. Karena minggu depannya saya udah mulai nggak masuk kantor, jadi minggu ini mabok lah saya di kantor sampai jam 6 karena nambah 2 jam per hari.

Tadinya takut rencana saya nggak disetujui sama si bos dan bos project karena project lagi rame-rame nya. Sebulan ini nggak ada ampunnya ini kerjaan karena kejar deadline juga. Setelah dipertimbangkan, alhamdulillah leave saya disetujui juga. Dengan tambahan kerjaan minggu depan harus beres minggu ini -_____- Saya seminggu ini kerja kayak dikejar setan kata temen. Muka datar menghadap monitor. Nggak sempet browsing-browsing. Sedihnyaaa…. Dan status communicator cuma ada 2, “busy” dan “don’t disturb”. Sok-sok an banget yeee. Tapi apa daya.

Baiklah, selamat pagi, selamat bekerjaa…
Doakan saya teman-temaaann (^__^)9

Tuntaskan Skripsi #5 : Mabuk Serat, Mendadak Ganti Tangki, dan Gelas Ukur yang Pecah

Standard

1. Mabuk Serat

Dari dua minggu kemarin saya, Kartika a.k.a Tice dan Erwita a.k.a Iwit mabuk serat. BUKAN! Bukan mabuk-mabukan minuman keras. Tapi mabuk menggerus serat tumbuh-tumbuhan. Jadi skripsi saya and the girls ini penelitian pressure drop pada pipa spiral dimana fluida yang dialirkan adalah air dengan campuran serat tumbuh-tumbuhan. Saya sendiri meneliti serat pelepah pisang, Tice meneliti serat daun nanas dan Iwit tertarik pada daun pandan. Kenapa bikin mabuk?? Karena untuk mendapatkan serat-serat ini sangatlah tidak mudah. Saya harus mengacak-acak pelepah pisang busuk di kebun yang kemudian direndam semaleman agar lebih mudah mengambil seratnya. Tice dan Iwit lebih galau lagi karena mengambil serat daun nanas dan daun pandan itu tidaklah mudah, jendral. Jadi, daun nanas dan pandan ini harus digerus dulu daun-daunnya di kedua sisi, barulah akan terlihat seratnya yang sangat tipis dan mudah putus itu. Jadi sebenarnya mereka lebih mabuk dari saya.

Beberapa foto ada di kamera Iwit, di handphone saya cuma ada foto yang sudah jadi serat pelepah pisang saja. Yang serat daun nanas dan daun pandannya belum dicopy filenya.

Serat pelepah pisang. Lebih mirip rambut nenek.

Serat pelepah pisang. Lebih mirip rambut nenek.

Digunting lebih kurang 0.5mm. Sehalus mungkin. Gempor dah tuh. Hehehe

Digunting lebih kurang 0.5mm. Sehalus mungkin!!!

Karena disuruh sehalous mungkin, mari kita coba kehebatan ulekan sambel ini. Dan, GAGAL! Nggak halus sama sekali. T.T

Karena disuruh sehalus mungkin, mari kita coba kehebatan ulekan sambel ini. Dan, GAGAL! Nggak halus juga T.T

Diayak menggunakan saringan teh. Biar dapet hasil yang sehalus mungkin.

Diayak menggunakan saringan teh. Biar dapet hasil yang sehalus mungkin.

Taraaa... 10 gram itu segini aja dooong. Harus dapet 20 gram. Hosh!

Taraaaaaa… 10 gram itu segini aja dooong. Harus dapet 20 gram. Hosh!

Yang tersiksa tidak hanya saya, Iwit dan Tice saja. Dua pria yang tidak mau disebutkan namanya ini juga mabuk serat seperti kami. Beda tim, tapi satu pembimbing.

Sebut saja mereka Bunga dan Mawar. Muahahaha!

Sebut saja mereka “Bunga” dan “Mawar”. Muahahaha!

Mabuk serat belum berakhir sampai disini karena masih ada 1 jenis serat lagi yang harus dicari dan digerus. Semangat!

2. Mendadak Ganti Tangki

Nah, ini kejadiannya jumat kemarin. Karena kita nggak mau semakin mabuk serat, maka saya, Iwit dan Tice memutuskan untuk membatasi serat yang dihasilkan dengan beberapa pertimbangan. Setelah dihitung-hitung, kami akan menggunakan 20 gram serat dengan 20 liter air. Setelah dicoba dimasukan air ke dalam tangki tinggi yang pertama kali kami gunakan (fotonya entah kemana), ternyata airnya nggak sampai ketinggian minimal pompa. Artinya pompa tidak dapat menyedot air dari tangki. Jadi yang pertama kepikiran adalah mengganjal bagian dasar tanki dengan menggunakan sesuatu yang dapat menaikkan permukaan air sampai pada batas sedot pompa. Dari siang sampai sore kami sudah mencoba mengganjal dengan menggunakan, batu kali, botol air mineral bekas yang diisi air dan tentunya gagal semua. Dan sudah mendekati sore, barulah ada masukan dari pak Budi (dosen PNJ) untuk mengganti tangki tinggi dengan kontainer yang kami sengaja beli paginya untuk menyimpan campuran air dan serat masing-masing. Saya sendiri sudah pasrah mau diapain aja alatnya terserah deh, udah keburu pusing. Dan dengan bantuan pak Budi yang paling semangat, pak Janus, Taka, dan Didit (temennya Iwit), Bonsai, Candra, dan tentunya Iwit dan Tice (saya keburu ke kampus karena ada presentasi kuliah Sistem Tata Udara) akhirnya pembongkaran tangki dilaksanakan juga. Alhamdulillah, berhasil sodara-sodaraaa… Hooray!

Our savior! Tssah... Thanks a lot, pak Budi, pak Janus, Taka, Candra, dan Didit. :)

Our savior! Tsaah… Thanks a lot, pak Budi, pak Janus, Taka, Candra, Bonsai, dan Didit. ๐Ÿ™‚

3. Gelas Ukur yang Pecah

Menurut saya yang paling membuat saya galau selama weekend ini adalah gelas ukur punya nya pak Budi yang saya pecahin. Nggak sengaja. Suer! ๐Ÿ˜ฆ Sabtu sore saya, Tice dan Iwit dengan semangat mulai dari pagi sampai sore ngendon di lab PNJ dengan harapan bisa mulai percobaan dengan campuran air dan serat. Jadi mulai lah hari ini sebagai tumbalย percobaan pertama serat pelepah pisang. Karena ada beberapa parameter yang diambil, jadi tugas dibagi menjadi tiga. Iwit yang memutar katup dan mengamati ketinggian manometer, Tice yang mengamati perubahan flowmeter, saya yang menghitung waktu untuk menghitung volume air setiap 2 liter dibantu Iwit yang memegang stopwatch dan Taka sebagai cameraman.

Percobaan pertama pada pipa besar dengan 15 kali bukaan katup yang dilakukan 2 kali. Percobaan 1 dan 2 alhamdulillah lancar. Dilanjutkan percobaan pada pipa kecil. Pada saat hitungan percobaan ke 15, gelas ukur yang saya pegang lepas dari tangan dan PECAH!!! Kondisi tangan saya basah dan gelas ukurnya sudah licin karena sudah dari pagi digunakan. Panik dan kaget banget sampai lupa foto. Eh?

Saya pikir, “ya udah, ntar saya ganti aja. Paling harganya nggak sampai 200ribu”. Googling dan cari info harga gelas ukur 2500ml ternyata oh ternyata harganya jauh di luar pemikiran saya. Di salah satu website ditampilkan harganya Rp. 465.000. Alamaak! Mahal kaliiii T___T

Akhirnya nitip ke Tice dan Taka, setelah dicari informasi toko alat kesehatan terdekat, gelas ukur yang tersedia ukuran 2000ml saja dengan harga Rp. 925.000. Masyaallah. Gelas ukur yang kemarin-kemarin di lab cuma tergeletak di kolong kursi nggak ada yang peduli begitu, eh ternyata harganya segitu mahalnya. Makin lemes deh tuh. Saya sampai nggak enak hati sama Tice dan Iwit. Dan mereka memang adalah partner, mungkin lebih dari partner, (may I call you best friend, girls?) dengan sangat pengertian sekali nggak ngambek lho ke saya. Ya ampun, baik hati sekali kaliaaan. *berpelukaaan* Bahkan mereka bilang mau ganti itu gelas ukur dibagi tiga aja karena menurut mereka itu kan tanggung jawab bertiga. Kalau nggak ada gelas ukur lab pun kita toh tetep harus beli gelas ukur, katanya. Makin nggak enak lah hati ini. Huhuhu… Besok mau coba cari di pasar pramuka, kata pak Subandrio disana ada toko alat dan bahan kimia juga. Basmallah, semoga tidak mengecewakan kedua sahabat saya ๐Ÿ™‚

Dan, sekian laporan untuk hari ini. Saya lebih lancar mengetik postingan ini dari pada mengetik draft skripsi saya sendiri. HAHAHA

25 hari lagi menuju tanggal 28 Desember 2012. Jadwalnya mengumpulkan draft skripsi sodara-sodaraaa… *mimisan segalon*

– Manjadda wajada –
Barangsiapa bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasil