Monthly Archives: November 2012

Commuter Line #3 : “Pak, Bangun. Sudah Sampai.”

Standard

Pagi ini seperti biasa, dengan setia saya masih naik Commuter Line ini. Walaupun harga tiketnya sudah naik Rp. 2000 perak jadi sekarang Rp. 8000. Tapi pelayanannya masih nggak ada peningkatan dan bahkan belakangan ini semakin buruk. Nah lho, jadi curhat. Hahaha Segimana pun saya ngomel-ngomel tentang pelayanan KRL tapi tetep sih tiap hari saya masih setia pulang-pergi ke kantor pakai moda angkutan ini. Cepat dan nggak macet (KALAU kondisi KRL lagi oke).

Ada kejadian menarik di dalam kereta pagi ini. Hampir setiap pagi saya selalu naik di gerbong yang sama. Saya berangkat pagi jam 5.38 dari stasiun Universitas Indonesia. Jadi hampir semua penumpang yang beruntung mendapatkan kursi dan naik dari stasiun Depok Lama sudah pasti tidur. Kebanyakan adalah karyawan dan beberapa ada anak usia sekolah SD atau SMP.

Pagi ini sampai stasiun Manggarai, ada seorang bapak yang berdiri dari kursinya dan membangunkan bapak dan dua orang anaknya yang masih tertidur. “Pak, pak, Bangun. Sudah sampai stasiun Manggarai”. Si bapak dan dua anaknya langsung bangun dan turun dari kereta. Saya langsung berpikir, wah, di kereta ini banyak selali pelajaran yang bisa didapat. Mulai dari saling peduli dengan sesama, contohnya bapak yang membangunkan bapak yang tertidur. Karena hampir setiap hari ketemu di dalam kereta, mungkin juga tidak saling kenal dan tidak pernah ngobrol sebelumnya, tapi masih saling peduli dengan sesama.

Ah, indahnya pelajaran hari ini. Selamat pagi. 🙂

Maag dan Alergi Obat

Standard

Entah dosa apa, semalem saya lagi-lagi harus ke UGD RS Mitra Keluarga Depok lagi. Dan lagi-lagi merepotkan kang Robby, sahabat yang baik hati ini. Punten ya kang Robby, aku ngerepotin terus. Semoga kebaikannya dibalas yang setimpal oleh Allah. SWT, amin. Lucky me to have a best friend like  you 🙂

Jadi sebenernya awalnya itu sakit perut mulai dari siang, karena memang nggak makan nasi pas siangnya. Males keluar karena lagi asyik ngerjain skripsi sama Kartika dan Erwita, jadi delivery pizza. Kenyang banget sih sebenernya makan pizza segitu, tapi karena perutnya memang ndeso, harus makan nasi kalo enggak dia ngambek. Dan bener aja, sore mulai sakit perut. Saya ngesot deh ke kantin dekat kosan, pesan nasi goreng dan kelapa muda murni.

Sebenarnya pas makan sih biasa-biasa saja, setelah sholat magrib, trus sholat isya, kok perut makin sakit? Sakitnya di sebelah kanan atas. Dan ini bukan untuk yang pertama kalinya. Sudah sering dan sudah pernah juga periksa ke dokter penyakit dalam dan disuruh USG. Karena dikhawatirkan empedu, ginjal atau hati atau liver saya yang sebenarnya sakit. Alhamdulillah dari hasil USG saya baik-baik saja. Semua normal. Puji syukur kepada Allah. SWT 🙂 Yeay! Jadi memang sepertinya yang bermasalah perut saya, tapi kok ini ya sebelah kanan atas. Waktu tanya ke dokter, dia cuma menyimpulkan itu karena maag. Honestly, saya masih bingung. Tapi ya sudahlah yah, minum obatnya saja. Alhamdulillah sembuh. Dan memang akan selalu kambuh kalau saya makannya telat dan tidak teratur.

Nah, lanjut yang semalem, setelah sakit perut yang amat sangaaaat luar biasa itu. Saya berusaha mengalihkan perhatian dengan nonton, tapi nggak bisa konsentrasi  (padahal udah download The Big Bang Theory season 8 sampe episode 8), saya olesi balsem aja perutnya dan berusaha untuk tidur lebih awal. Jam 21.30 gitu saya sudah di dalem selimut sambil guling-guling nggak jelas karena nggak ada posisi tidur yang membuat perut ini nyaman. Miring ke kanan makin sakit karena ada di posisi kanan sakitnya, miring ke kiri sakit juga, tengkurep nggak membantu juga, telentang apalagi. Perut kayak yang ketarik gitu. Trus akhirnya saya duduk maksudnya kali-kali mendingan. Tapi nggak membantu juga. Biar ngantuk, akhirnya saya jalan-jalan keliling kamar saya yang nggak seberapa besarnya ini, tujuannya biar capek trus jadi ngantuk. Dan setelah belasan kali jalan pun, nggak ada bedanya.

Saya akhirnya ingat masih ada Ranitidin obat lambung di tas. Obat yang dulu pernah dikasih sama dokter di RS yang sama sebelumnya, tapi baru diminum 2 kali saja. Obatnya dikasih bulan juni 2012, pas saya cek expired date nya ternyata masih bisa sampe 2015. Saya langsung minum obatnya dan kembali jalan muterin kamar. Nggak lama setelah itu, langsung rasanya mau muntah. Akhirnya saya paksa buat muntahin, sampe obatnya pun berasa tuh pahit keluar lagi. (Maaf ceritanya jijaay yah)

Sepertinya saya muntah sampai semua makanan yang tadi sore saya makan habis dari perut. Nasi goreng dan kelapa muda murni itu udah nggak bersisa sepertinya. Setelah muntah-muntah, muka rasanya perih, panas, gatal dan berasa bengkak. Saya langsung ngaca dan kaget. Bener aja, muka saya alergi sepertinya. Dan jam sudah menunjukkan pukul 22.30, akhirnya langsung minta tolong kang Robby untuk mengantar ke UGD RS Mitra Keluarga Depok. Sekali lagi, hatur nuhuuun pisan ya kang 🙂 (Kenapa nggak naik taksi? Boro-boro berani naik taksi jam segitu sendirian, jalan keluar gang untuk nyegat taksi pun saya nggak berani -____-“)

Di UGD saya akhirnya disuntik obat alergi. Sekitaran setengah jam kemudian, muka sudah nggak bengkak dan gatel lagi. Tapi bekas bintik-bintik di sekitaran mata dan pipi masih ada. Dokter jaganya juga masih belum tahu itu alergi apa. Karena kalau dibilang alergi Ranitidin, sebelumnya saya sudah pernah minum obat itu dan tidak ada efek alergi seperti sekarang. Ya sudahlah yah, sepertinya penyakit saya memang suka aneh dan nggak ada penjelasannya. Jadi sudah boleh pulang dan dikasih obat alergi dan maag.

Semalem sebelum tidur saya ngaca dan berdoa dulu semoga besok muka udah nggak bintik-bintik lagi dan normal lagi seperti semula. Trus tadi bangun tidur, saya langsung ngaca lagi dan taraaaaaa…. bintik-bintiknya belum hilang 😐 Mulai panik lagi telpon mama, papa, dan kakak. Dan kata mama dan kakak, “Mungkin sebelumnya kamu cocok aja sama obat itu, tapi sekarang kondisi badan lagi nggak oke, jadi lemah. Obat hilangin bintik-bintiknya nggak ada. Dibiarin aja, nanti juga hilang sendiri kok”. Baiklah, sabar sabar sabaaarr… *ngomong sama kaca*

Well, sekian dan terima kasih.

Selamat berlong wiken, semoga liburannya menyenangkan, yang sakit disembuhkankan, yang sedih diberikan kebahagiaan, yang mukanya bintik-bintik disembuhkan dan mulus lagi, amin.

“Ya Allah… Saya minta maaf kalau banyak salah dan dosa, semoga ini sebagai peluruh dosa, amin”.

Tuntaskan Skripsi #4 : Manjadda Wajada

Standard

Well, speechless yang ini bukan karena saking kagumnya tapi saking nggak tau mau jawab apa. Setiap kali ada yang nanya, “gimana skripsi, Win?”. Umm, biasanya saya masih bisa kalem jawab, “Mohon doanya, pak. Masih instalasi alat”. Nah, sekarang no more excuse, soalnya deadline semakin dekat dan saya belum punya data. Actually, instalasi alatnya pun masih dalam proses pengerjaan. Still? YES! Please don’t ask yah. I wanna cry. T____T

Dan sekarang setiap hari ada teman yang selalu nanyain dan saya yang sedang sensitif ini merasa semakin frustasi Hahaha. “Cieee… Winda udah selesai aja nih karya tulisnya. Udah beres lagi jurnalnya”. Aaaarrg! STOP, please! Ini bukannya membuat saya semakin termotivasi, tapi malah membuat saya semakin stres. Mamaaaaa…. T____T

Sementara menunggu alat sedang diinstalasi, saya mulai nyicil printilan-printilan untuk karya tulis. Seperti cover, kata pengantar, halaman persetujuan. Dari pada saya useless dan semakin frustasi, kan? Hahaha

Sekarang mari perbanyak berdoa dan minta doa ke orang tua. Setiap kali nelpon mama, pasti saya selalu bilang, “Mama, doain terus skripsi aku kan, ma?” Hehehe Tetap semangat! Kalau orang lain bisa, saya juga harus bisa dan terus berusaha. Basmallah. 🙂

– Manjadda Wajada –
Barangsiapa bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasil