Takut dengan Rumah Sakit

Standard

Nama saya Winda Wulandari. Umur 23 tahun. Cita-cita ingin menjadi dokter.  Telat yah? Hehehe Sebenernya dulu saya memang ingin menjadi seorang dokter. Apa daya, tidak sesuai dengan kemauan saya, tapi Allah.SWT memberikan yang lebih baik untuk saya. Alhamdulillah 🙂

Kalau saya pikir-pikir, memang saya sepertinya tidak cocok menjadi seorang dokter. Dan aneh juga kenapa cita-cita saya dulu ingin menjadi dokter. Karena faktanya adalah saya adalah orang yang sangat lebay dengan kebersihan. Nggak mau masuk ke toilet umum yang menurut saya jorok dan bisa dikatakan saya parno dengan rumah sakit. Lha, gimana mau kerja di rumah sakit kalau saya anti rumah sakit.

Awalnya, karena dulu waktu saya kecil, setiap kali akan menjenguk saudara yang dirawat di rumah sakit, saya pasti tidak diijinkan masuk. Kata orangtua saya, “anak kecil nggak boleh masuk, soalnya banyak kuman dan penyakit. Nanti menular”. Jadi, akhirnya saya menunggu di mobil saja. Trus ketika sudah SMP, saya sudah boleh ikut menjenguk ke dalam kamar pasien. Tapi setelah saya sampai di rumah, orang tua langsung menyuruh saya mencuci tangan dengan sabun.

Sebenarnya apa yang disuruh orang tua saya itu benar, karena anak kecil rentan terhadap penyakit dan di rumah sakit itu ada banyak pasiennya dengan beragam penyakit. Tapi yang saya tangkap malah berbeda. Saya jadi benar-benar parno dengan rumah sakit. Saya nggak tahan berlama-lama di rumah sakit. Minum atau makan pun saya nggak mau. Boro-boro makanan dari rumah sakit, makanan yang dibawa dari luar dan dimakan di rumah sakit saja saya nggak mau. Karena yang ada dipikiran saya adalah bakteri, virus, kuman yang berterbangan di mana-mana dan lantai yang berbau cairan pembersih lantai yang membuat saya mual.

Tapi semua memang di luar kemampuan kita, pada akhirnya saya sendiri dirawat di rumah sakit, sekitar 3 hari. Hari pertama saya menolak makan makanan dari rumah sakit dan membawa makanan sendiri. Dari kedua, saya diinfus seharian dan tidak boleh makan. Dan hari ketiga, karena sudah kelaperan nggak dikasih makan, jadilah mau nggak mau saya makan makanan rumah sakit.

Kedua kali saya menginap dan makan di rumah sakit waktu pacar saya, si Meng operasi amandel. Jadi saya menemani di rumah sakit. Sebenarnya kalau makannya, saya makan di  rumah makan yang tidak jauh dari rumah sakit. Luckily, ada rumah makan dekat sana. 😀

Selain saya, keponakan saya, Naufal 9 tahun, juga parno dengan rumah sakit. Padahal papanya seorang dokter yang setiap hari memang akan berada di rumah sakit dan bertemu pasien. Sama seperti saya, yang ada di pikiran Naufal adalah banyak sekali bakteri, virus dan penyakit di rumah sakit, dan dia tidak mau tertular. Jadi pernah waktu papanya pulang dari rumah sakit masih menggunakan jas dokternya, Naufal mengunci pintu tidak mengijinkan papanya masuk rumah. Katanya, “papa kan dari rumah sakit habis ketemu pasien, jadi harus lepas dulu jas dokternya baru boleh masuk rumah”. Itu pun papanya disuruh langsung mandi. 😀

Pernah juga sekali, handphone Naufal terbawa sama mamanya ke rumah sakit karena mamanya juga kerja di rumah sakit, setelah itu Naufal nggak pernah mau lagi menggunakan handphonenya itu. Katanya banyak kuman. 😀 Sebenarnya cita-cita awal Naufal ingin menjadi dokter spesialis bedah tulang. Dan baru tahun ini dia berubah pikiran, dia bilang mau jadi presiden. 😀

Semoga parno dan kelebay-an kami ini segera terobati deh yah. Nggak kebayang suatu saat nanti ketika saya akan menjadi ibu dan melahirkan, masa saya melahirkan di rumah? 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s