Commuter Line #2 : Pak Ismail

Standard

Saya memang sangat akrab dengan moda transportasi satu ini, setiap hari berangkat kerja dan ke kampus saya selalu menggunakan jasa Commuter Line atau yang biasa disebut kereta listrik. Saya juga sudah pernah posting sebelumnya di Naik apa di Jakarta? 

Setiap hari naik kereta membuat saya mengalami banyak kejadian. Ada cerita lucu karena ada yang kentut di kereta. Ada susahnya kalau keretanya telat, AC nya mati dan penumpangnya bejibun. Ada juga kejadian senang, ketemu orang-orang baru mulai dari supir, penjual kaki lima, orang kantoran sampai manager juga ada. Lengkap deh pokoknya di kereta. 😀

Di kantor saya sendiri banyak banget yang naik kereta. Jangankan karyawan biasa seperti saya, bos saya aja naik kereta lho. Karena memang lebih cepat, terhindar dari macet dan stres karena padatnya jalanan di Jakarta.

Kalau saya berangkat kerja selalu naik kereta yang AC jam 5.39 pagi dari stasiun Universitas Indonesia karena keretanya lebih lega dan nggak empet-empetan. Sedangkan pulangnya saya punya dua pilihan. Kalau saya ada kuliah, saya naik kereta ekonomi jam 16.03 dari stasiun Sudirman. Tapi kalau tidak ada jadwal kuliah saya naik kereta AC jam 16.49.

Karena semester kemarin jadwal kuliah lumayan padat, jadi saya lebih sering naik kereta ekonomi jam 16.03. Saya selalu naik di gerbong kedua di pintu pertama. Saking seringnya saya naik di gerbong kedua, saya sampai punya kenalan. Namanya pak Ismail. Bapak ini baiiiik banget. Kenapa saya bilang baiknya dengan “i” yang banyak? Karena memang pak Ismail ini baik banget sama saya. Setiap saya naik kereta, pak Ismail ini dengan baik hati memberikan tempat duduknya untuk saya.

Pak Ismail naik kereta dari stasiun Tanah Abang, dari sana memang masih sedikit kosong jadi pak Ismail bisa duduk dengan lega. Saya sebenarnya tidak enak, tapi pak Ismail setengah memaksa saya. Dan saya jadi nggak enak menolak.

Sejujurnya saya baru tadi sore tahu nama beliau adalah pak Ismail. Padahal sudah sering sekali saya diberi tempat duduk. Aiih, jadi malu. Tapi setidaknya sekarang sudah tau namanya. Ketika ngobrol-ngobrol dengan beliau, pak Ismail ini sekarang usianya 63 tahun. Sama usianya dengan papa saya. Dan beliau masih sehat dan tidak terlihat seusia beliau seharusnya. Kalau saya menilai, beliau orangnya punya jiwa muda dan tidak ambil pusing kalau ada masalah. Jadilah beliau tidak mudah stres dan masih awet muda. Anak beliau ada 5 orang. Dan saya seumuran anaknya yang kelima. Saya jadi teringat papa saya karena beliau seumuran dengan papa.

Semenjak kenal dengan beliau, yang biasanya saya parno dan takut naik kereta ekonomi sekarang lebih tenang karena merasa ada kenalan satu gerbong 😀 Mudah-mudahan kebaikan pak Ismail dibalas oleh Allah.SWT dengan yang lebih baik , beliau diberikan kesehatan, dan semakin taat kepada Allah.SWT, amin 🙂

Terima kasih, pak Ismail 🙂

Advertisements

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s