Monthly Archives: September 2012

Demam Gangnam Style

Standard

Tuh, lagi-lagi saya kamseupay. Nggak gaul kalau kata teman saya. Kalau dulu saya nggak tau arti “kamseupay“, sekarang saya nggak tau apa itu “Gangnam Style”. Saya baru sadar sama Gangnam Style ini pas baca di timeline twitter banyak yang ngetweet Gangnam Style. Trus display picture dan status blackberry messanger orang-orang juga berhubungan dengan Gangnam Style ini. Baru saya penasaran, apa sih Gangnam Style?

Iseng sambil mengantri di Rumah Sakit, saya membuat status di twitter :

Inilah jawaban beberapa dari teman-teman saya :

Penasaran, akhirnya saya langsung browsing di youtube 😀 Tapi nggak bisa upload di sini karena filenya lumayan besar sizenya. Yang mau lihat langsung di youtube, link nya di sini : http://www.youtube.com/watch?v=9bZkp7q19f0

Sejujurnya saya tidak tertarik dengan hal-hal berbau Korea. Mau film drama nya atau boyband dan girlsband nya. No offense 🙂 Bukan karena apa-apa, karena mungkin selera saya aja kali yah yang katro. Hehehe Kalau disuruh dengerin boyband Korea, saya lebih memilih nonton Coboy Junior  (boyband anak Indonesia yang personilnya lucu-lucu dan suaranya bagus). Saya katro, yah? Hehehe Nggak apa-apa, namanya juga selera masing-masing. Bebas mau suka yang mana saja toh? 🙂

Eh tapi, Gangnam Style ini kocak juga. 😀

Advertisements

Takut dengan Rumah Sakit

Standard

Nama saya Winda Wulandari. Umur 23 tahun. Cita-cita ingin menjadi dokter.  Telat yah? Hehehe Sebenernya dulu saya memang ingin menjadi seorang dokter. Apa daya, tidak sesuai dengan kemauan saya, tapi Allah.SWT memberikan yang lebih baik untuk saya. Alhamdulillah 🙂

Kalau saya pikir-pikir, memang saya sepertinya tidak cocok menjadi seorang dokter. Dan aneh juga kenapa cita-cita saya dulu ingin menjadi dokter. Karena faktanya adalah saya adalah orang yang sangat lebay dengan kebersihan. Nggak mau masuk ke toilet umum yang menurut saya jorok dan bisa dikatakan saya parno dengan rumah sakit. Lha, gimana mau kerja di rumah sakit kalau saya anti rumah sakit.

Awalnya, karena dulu waktu saya kecil, setiap kali akan menjenguk saudara yang dirawat di rumah sakit, saya pasti tidak diijinkan masuk. Kata orangtua saya, “anak kecil nggak boleh masuk, soalnya banyak kuman dan penyakit. Nanti menular”. Jadi, akhirnya saya menunggu di mobil saja. Trus ketika sudah SMP, saya sudah boleh ikut menjenguk ke dalam kamar pasien. Tapi setelah saya sampai di rumah, orang tua langsung menyuruh saya mencuci tangan dengan sabun.

Sebenarnya apa yang disuruh orang tua saya itu benar, karena anak kecil rentan terhadap penyakit dan di rumah sakit itu ada banyak pasiennya dengan beragam penyakit. Tapi yang saya tangkap malah berbeda. Saya jadi benar-benar parno dengan rumah sakit. Saya nggak tahan berlama-lama di rumah sakit. Minum atau makan pun saya nggak mau. Boro-boro makanan dari rumah sakit, makanan yang dibawa dari luar dan dimakan di rumah sakit saja saya nggak mau. Karena yang ada dipikiran saya adalah bakteri, virus, kuman yang berterbangan di mana-mana dan lantai yang berbau cairan pembersih lantai yang membuat saya mual.

Tapi semua memang di luar kemampuan kita, pada akhirnya saya sendiri dirawat di rumah sakit, sekitar 3 hari. Hari pertama saya menolak makan makanan dari rumah sakit dan membawa makanan sendiri. Dari kedua, saya diinfus seharian dan tidak boleh makan. Dan hari ketiga, karena sudah kelaperan nggak dikasih makan, jadilah mau nggak mau saya makan makanan rumah sakit.

Kedua kali saya menginap dan makan di rumah sakit waktu pacar saya, si Meng operasi amandel. Jadi saya menemani di rumah sakit. Sebenarnya kalau makannya, saya makan di  rumah makan yang tidak jauh dari rumah sakit. Luckily, ada rumah makan dekat sana. 😀

Selain saya, keponakan saya, Naufal 9 tahun, juga parno dengan rumah sakit. Padahal papanya seorang dokter yang setiap hari memang akan berada di rumah sakit dan bertemu pasien. Sama seperti saya, yang ada di pikiran Naufal adalah banyak sekali bakteri, virus dan penyakit di rumah sakit, dan dia tidak mau tertular. Jadi pernah waktu papanya pulang dari rumah sakit masih menggunakan jas dokternya, Naufal mengunci pintu tidak mengijinkan papanya masuk rumah. Katanya, “papa kan dari rumah sakit habis ketemu pasien, jadi harus lepas dulu jas dokternya baru boleh masuk rumah”. Itu pun papanya disuruh langsung mandi. 😀

Pernah juga sekali, handphone Naufal terbawa sama mamanya ke rumah sakit karena mamanya juga kerja di rumah sakit, setelah itu Naufal nggak pernah mau lagi menggunakan handphonenya itu. Katanya banyak kuman. 😀 Sebenarnya cita-cita awal Naufal ingin menjadi dokter spesialis bedah tulang. Dan baru tahun ini dia berubah pikiran, dia bilang mau jadi presiden. 😀

Semoga parno dan kelebay-an kami ini segera terobati deh yah. Nggak kebayang suatu saat nanti ketika saya akan menjadi ibu dan melahirkan, masa saya melahirkan di rumah? 😀

Stop Mengeluh, Segera Sebar CV

Standard

Pagi ini di dalam kereta perjalanan saya menuju kantor, seorang teman bbm (blackberry messanger), curhat tentang kondisi pekerjaannya di perusahaan tempat dia bekerja sekarang.

Dia cerita betapa berat pekerjaannya, bos yang galak, selalu pulang malam, lembur nggak dibayar, teman-teman kantor tidak friendly, dan fasilitas kantor yang tidak mendukung. Termasuk internet yang diblock. Alasan internet yang diblock ini menurut saya yang paling annoying. Hahaha (Thank God, kantor saya baik hati masalah internet :D)

Ketika dia meminta saran saya, saya menyarankan untuk segera mencari pekerjaan baru. Buat apa bekerja di perusahaan tersebut kalau kamu selalu mengeluh? Artinya kamu tidak nyaman dan tidak bahagia di sana.

Memang tidak mudah mendapatkan perusahaan yang sempurna. Mungkin ada saja yang rasanya kurang. Tapi coba lihat dari sisi lainnya. Misalkan, walaupun pekerjaan terasa berat, tapi bos baik dan selalu memotivasi kita untuk lebih baik. Atau walaupun bos galak dan tidak peduli dengan kita, kita masih punya teman kantor yang asyik dan bisa ketawa setiap hari. Atau bisa juga kalau semuanya terasa berat, bos galak, kerjaan banyak, teman nggak ada yang asyik, ya paling tidak internet kantor nggak diblock jadi bisa menghibur diri sendiri. Hahaha

Well, intinya sih, kalau kita memang merasa sudah tidak nyaman bekerja di sana, segera update CV (Curriculum Vitae), sebarkan CV kamu ke perusahaan yang lebih baik, setelah deal dengan perusahaan yang baru, segera buat surat resign. Sayonara perusahaan lama.

Buat apa mengeluh terus tentang pekerjaan? Sama sekali tidak akan membantu. Mendingan waktu yang dihabiskan untuk mengeluh itu digunakan untuk interview di perusahaan lain.  Masih banyak perusahaan yang lebih menghargai skill kamu. Move forward!

“Find a job you like and you add five days to every week”
– H. Jackson Brown, Jr. –

PS : Alhamdulillah, setelah mendengar keluh kesah teman saya tentang kantornya, saya jadi bersyukur bekerja di kantor saya 🙂
Untuk si teman yang masih galau, semoga segera mendapatkan pekerjaan yang lebih baik yah 🙂

Commuter Line #2 : Pak Ismail

Standard

Saya memang sangat akrab dengan moda transportasi satu ini, setiap hari berangkat kerja dan ke kampus saya selalu menggunakan jasa Commuter Line atau yang biasa disebut kereta listrik. Saya juga sudah pernah posting sebelumnya di Naik apa di Jakarta? 

Setiap hari naik kereta membuat saya mengalami banyak kejadian. Ada cerita lucu karena ada yang kentut di kereta. Ada susahnya kalau keretanya telat, AC nya mati dan penumpangnya bejibun. Ada juga kejadian senang, ketemu orang-orang baru mulai dari supir, penjual kaki lima, orang kantoran sampai manager juga ada. Lengkap deh pokoknya di kereta. 😀

Di kantor saya sendiri banyak banget yang naik kereta. Jangankan karyawan biasa seperti saya, bos saya aja naik kereta lho. Karena memang lebih cepat, terhindar dari macet dan stres karena padatnya jalanan di Jakarta.

Kalau saya berangkat kerja selalu naik kereta yang AC jam 5.39 pagi dari stasiun Universitas Indonesia karena keretanya lebih lega dan nggak empet-empetan. Sedangkan pulangnya saya punya dua pilihan. Kalau saya ada kuliah, saya naik kereta ekonomi jam 16.03 dari stasiun Sudirman. Tapi kalau tidak ada jadwal kuliah saya naik kereta AC jam 16.49.

Karena semester kemarin jadwal kuliah lumayan padat, jadi saya lebih sering naik kereta ekonomi jam 16.03. Saya selalu naik di gerbong kedua di pintu pertama. Saking seringnya saya naik di gerbong kedua, saya sampai punya kenalan. Namanya pak Ismail. Bapak ini baiiiik banget. Kenapa saya bilang baiknya dengan “i” yang banyak? Karena memang pak Ismail ini baik banget sama saya. Setiap saya naik kereta, pak Ismail ini dengan baik hati memberikan tempat duduknya untuk saya.

Pak Ismail naik kereta dari stasiun Tanah Abang, dari sana memang masih sedikit kosong jadi pak Ismail bisa duduk dengan lega. Saya sebenarnya tidak enak, tapi pak Ismail setengah memaksa saya. Dan saya jadi nggak enak menolak.

Sejujurnya saya baru tadi sore tahu nama beliau adalah pak Ismail. Padahal sudah sering sekali saya diberi tempat duduk. Aiih, jadi malu. Tapi setidaknya sekarang sudah tau namanya. Ketika ngobrol-ngobrol dengan beliau, pak Ismail ini sekarang usianya 63 tahun. Sama usianya dengan papa saya. Dan beliau masih sehat dan tidak terlihat seusia beliau seharusnya. Kalau saya menilai, beliau orangnya punya jiwa muda dan tidak ambil pusing kalau ada masalah. Jadilah beliau tidak mudah stres dan masih awet muda. Anak beliau ada 5 orang. Dan saya seumuran anaknya yang kelima. Saya jadi teringat papa saya karena beliau seumuran dengan papa.

Semenjak kenal dengan beliau, yang biasanya saya parno dan takut naik kereta ekonomi sekarang lebih tenang karena merasa ada kenalan satu gerbong 😀 Mudah-mudahan kebaikan pak Ismail dibalas oleh Allah.SWT dengan yang lebih baik , beliau diberikan kesehatan, dan semakin taat kepada Allah.SWT, amin 🙂

Terima kasih, pak Ismail 🙂