Monthly Archives: April 2012

Naik apa di Jakarta?

Standard

Jakarta buat saya,
Berangkat ketika matahari belum muncul dan pulang ketika matahari sudah terbenam.
Berangkat ketika masih gelap dan pulang ketika sudah gelap.

Mungkin saya terkesan hiperbola atau berlebihan. Tapi ini benar. Saya selalu berangkat jam 5.20 dari kosan ke stasiun agar tidak ditinggal commuter line = CL atau biasa disebut juga kereta listrik = KRL. Kenapa saya naik CL jam 5.39 pagi? Karena saya tinggal di Depok dengan jarak tempuh sekitar 40-50 menit dengan CL, ini kalo CL nya lagi lancar nggak ada delay dan gangguan.

Sebenarnya saya bisa aja naik CL jam 6 atau jam 7.30 karena jam masuk kantor saya flexible. Tapi saya lebih memilih berangkat jauh lebih pagi, karena kalau saya naik CL yang jam 6 dan setelahnya, ya saya harus dengan ikhlas berdesak-desakan dengan penumpang lainnya kayak ikan pepes. Mending berangkat subuh sekalian, lagian kan pulang kantornya bisa lebih cepet dan langsung ke kampus 😀 (selalu ada udang dibalik batu)

Kalau soal transportasi umum yang akrab dengan saya hampir setiap hari,
1. Commuter Line. Karena memang harus naik ini berangkat – pulang dari kantor. Naik bis ke kantor? No thanks! Macet banget, even masih subuh begitu. Dan saya memang gampang ngantuk kalo lagi naik motor, mungkin karena ditiup angin sepoy-sepoy. Jadi, berbahaya.

2. Busway. Nah ini juga pilihan saya. Lumayan, bisa lebih cepet dari naik taksi kalo lagi macet. Soalnya ada jalur sendiri, andaikan pengguna jalan lainnya tau yang mana yang jalur busway dan jalur kendaraan lainnya. Busway akan lancar terus mungkin, dan nggak terjadi penumpang yang numpuk di shelter-shelter. Paling nggak tahan kalo menuju tempat yang jauh tapi harus berdiri dan cuma pegangan ke hand railnya. Pegel banget soalnya kaki, pinggang sama tangan.

3. Taksi. Naik taksi di Jakarta ada enak ada juga enggak. Kalau lagi buru-buru dan lagi bawa bawaan yang banyak, ya enak naik taksi lah ya. Tapi kalo Jakarta lagi kambuh macetnya apalagi pas musim hujan, terima aja deh dompet terkuras harus bayar taksi 😦 Tapi memang sangat membantu. Walaupun ada beberapa supir taksi yang kadang rese, such as ngomel-ngomel pas macet, pura-pura nggak tau jalan, dll. Kadang mau ngomel-ngomel, saya suka nggak tega walaupun sebenernya sudah kesal 😀

4. Ojeg. Ini dia si lincah di dalam kemacetan. Harus pinter-pinter nawar. Kalo lagi sok jaul mahal, apalagi pas macet parah, pas busway nggak muncul-muncul sementara penumpang udah numpuk, mulai deh si abang-abang ojeg ini jual mahal 😀 Ya, namanya juga butuh, banyak aja yang naik ojeg daripada ngantri nggak jelas ampe si busway muncul. 😀

Sementara ini saya paling sering ketemu dengan keempat transportasi umum di atas. Tapi yang paling serem itu kalo Commuter Line lagi banyak menye-menye nya. Yang namanya telat lah, yang namanya ada gangguan, dan ada kereta yang dibatalkan, ini nih yang paling saya dan penumpang CL takutkan. Soalnya males banget kan harus ke Depok dari Sudirman naik taksi atau naik metromini atau bus. Ngebayanginnya aja males. 😀

Transporasi umum di Jakarta ini sangat membantu. Membantu mengurangi kemacetan lalulintas, mengurangi polusi, mengurangi penggunaan BBM, mengurangi tingkat kecelakaan lalu lintas, dll. Kembali ke diri kita sendiri dan pemerintah tentunya agar transportasi umum di Jakarta nyaman dan berasa praktisnya untuk penumpang. Karena saya sendiri contohnya bisa menghabiskan sekitar 2- 3 jam di jalan. Jadi saya merasa ingin kenyamanan selama saya di transportasi umum tersebut.

Dan untuk pengguna kendaraan pribadi, nggak ada salahnya sekali-sekali coba dulu menggunakan transportasi umum. Selain irit bensin dan nggak usah bayar joki 3 in 1 lagi kan 😉

Memang ngomong gampang yah, tapi nggak ada salahnya kita mulai menggiatkannya 🙂

image : http://newgrafitimakmu.blogspot.com

Advertisements

Home Alone

Standard

Pertama kali tinggal sendiri di rumah itu pas saya tinggal di Bukittinggi. Waktu itu saya kelas 2 SMA, tahun 2004. Kedua orangtua saya sekitar 1,5 bulan melaksakan ibadah haji ke Mekkah. Sebenarnya saya ditemani oleh saudara saya, tapi baru satu minggu dia sudah kembali ke rumahnya. Karena rumah sepi dan cuma dia sendiri di rumah. Saya sekolah dari pagi sampai sore. Dan hanya bertahan satu minggu menemani saya, kemudian kembali ke rumah sepupu saya. Saya juga merasa kasihan karena dia kesepian.

Pertama kali saya bingung juga, sendiri di rumah! Akhirnya saya mengajak sahabat-sahabat saya, Ria, Ayu & Anggi menginap di rumah. Kadang-kadang Icha & Ibi juga beberapa kali menginap. Nggak setiap hari, karena mereka juga tentunya masih tinggal dengan orangtua, nggak enak kalo saya ajak menginap terus di rumah saya.

Lama-kelamaan saya terbiasa tinggal sendiri di rumah. Kadang tante saya datang menemani saya, memastikan persediaan air minum galon masih ada dan mengecek tabung gas apakah masih ada atau sudah kosong. (Gas selalu full karena nggak pernah masak besar).

Rasanya tinggal sendiri di rumah sendiri itu lama kelamaan biasa dan rasa takut juga hilang sendiri. Saya terbiasa melakukan tugas rumah tangga yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan. Terbiasa bangun pagi menggunakan alarm. Biasanya alarmnya kan mama yang gedor-gedor pintu kamar. Hehehe

Saya ingat, kegiatan pagi saya mulai dari membuka jendela, mematikan lampu teras luar, sebelum berangkat ke sekolah saya harus memastikan kompor dan listrik sudah mati semua. Memastikan sudah mengunci pintu sebelum berangkat sekolah, dll.

Banyak hal yang saya pelajari ketika saya tinggal sendiri di rumah, saya belajar bertanggung jawab dan mandiri. Dan saya bersyukur itu membuat saya belajar banyak hal, bekal untuk saya ketika harus tinggal jauh dari orangtua. And here I am! Tinggal di pulau berbeda dengan orangtua dan mengurus diri sendiri! 🙂

Image

Gambar : http://jonandshamabartlett.blogspot.com

Nggak tau arti kamseupay, bukan berarti kamseupay ;)

Standard

Tadi di kampus ada temen yang bilang kata yang baru saya dengar, kamseupay. Dan di News feed facebook, juga ada temen yang nyebut-nyebut kata yang sama. Saya sendiri baru dengar kalimat ini. Saya pikir ini kata baru. Iseng saya tweet di twitter saya, dan taraaaa… bener, ini kata-kata gaul dan ternyata sudah lama ngetrend nya. Sedih yah, saya baru tau.

Dari hasil googling, ternyata kamseupay ini artinya  “KAMpungan SEkali Uuhh PAYah”. Kasar juga yah? Dan ini menurut beberapa hasil googling saya, ini kata gaul tahun 70-an yang sekarang jadi populer lagi karena artis Marrisa Haque sempat menulis di blognya. Dan sempat menjadi trending topic di twitter. Wow!

Jadi kemana aja saya selama ini? (-___-“) *nunduk*

Tadi sebelum googling, saya tweet “kamseupay apaan sih? *beneran gak tau*”
Dan ini jawaban teman-teman saya yang tentunya tidak kamseupay karena tau arti kamseupay. Salam kamseupay! :p

Gadget membuat saya gila!

Standard

Selamat pagi!

Saya sudah mulai tertarik ingin belajar phorography dari lama, berhubung waktu itu belum ada budget untuk beli kamera SLR nya, jadilah baru sekarang kepikiran lagi. Tapi ketika saya sudah mulai hunting kamera, tiba-tiba hal lain lagi yang mempengaruhi saya. Saya juga ingin handphone baru! Android itu sangat menggoda nggak sih? Ini gara-gara si Meng sudah beli android duluan. Saya jadi suka otak-atik dan mulai kepengin punya juga.

Mau yang spec nya bagus, tapi mahal. Maunya spec bagus, harga murah. Hahaha Kalau ngomongin tentang gadget memang nggak ada habisnya yah… Selalu ada yang lebih baru dan lebih bagus teknologinya. Aaaaa… Gadget membuat saya gila!

Sharing dong, gadget apa yang paling anda inginkan saat ini? Let me know yaaa 😉