Budaya “nyerobot” Bangsa Kita

Standard

Saya punya langganan nasi uduk di dekat tempat tinggal saya. Sebelum berangkat ke kantor, kalau lagi pingin sarapan nasi uduk atau nasi kuning, saya pasti menyempatkan untuk mampir dulu. Dari rasa sih standar, tapi si ibu yang jualan terlihat bersih, baik dari pakaian yang digunakan dan makanan yang dijual. Makanya saya sering beli ke beliau. Hanya saja ketika dia melayani pembeli, dia selalu nyambi ngobrol sama ibu-ibu lain. Jadinya butuh waktu cukup lama, kadang pembeli jadi numpuk. Pernah sekali, saya kelamaan nunggu dan sedang buru-buru akhirnya saya tinggal dan nggak jadi beli.

Tadi pagi, ada teman kantor yang minta dibeliin nasi kuning, saya sengaja datang lebih awal karena tau akan lama menunggu dan biar saya nggak telat ke kantor. Saya antrian ketiga. Pas antrian kedua, ada seorang nenek datang, membawa lunch box kosong. Kalau dilihat dari bentuknya sih itu punya cucunya yang masih SD. Si ibu penjual sedang menyajikan nasi uduk pesanan seorang bapak di antria kedua. Si Nenek bilang, “Nasi uduk dong buat ke sekolah”. Karena si nenek “nyerobot” gitu, saya langsung bilang ke ibu penjual, “Bu, saya nasi kuningnya dua bungkus ya”. Si nenek nyerocos, “Yee, lagi buru-buru nih”. Saya diam saja, dalam hati saya cuma bilang, “saya kan juga buru-buru dan datang duluan”.

Sebenarnya nggak banget deh ya rebutan nasi kuning ama nenek-nenek. Malu-maluin juga sebenarnya. Malu juga buat ceritanya. Kalau saja saya tidak sedang buru-buru, dengan senang hati saya persilahkan si nenek duluan. Sayangnya, saya sedang buru-buru.

Sepanjang perjalanan ke kantor, saya kepikiran kejadian rebutan antrian nasi kuning tadi. Beberapa kali saya mengalami kejadian “orangtua menyerobot antrian” ini. Antrian pesan makanan di food court, antrian busway, antrian check in pesawat, dan sekarang antrian nasi uduk. Yang menyerobot ini adalah orangtua. Saya baru sadar kenapa susah sekali menerapakan budaya antri ini kepada bangsa kita. Karena budaya antri ini memang bukan budaya orang kita Indonesia. Orangtua dulu mungkin tidak mengenal dan tidak diajarkan mungkin tentang budaya antri. Jangankan mereka yang sudah tua, yang muda-muda aja sekarang walaupun sudah tau dengan budaya antri, tapi sering kali menyerobot antrian. Saya paling sewot kalau antrian saya diserobot. Makanya saya paling kesal kalau harus mengurus sesuatu dengan mengantri, tapi tidak disediakan nomor antrian. Karena ini hanya akan membuat ricuh dan suasana nggak karuan.

Susah memang untuk membudayakan kebiasaan antri ini. Tapi mari kita mulai dari diri kita sendiri. Malu dong ama bebek, mereka aja ngantri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s