Akibat Bentar-Lagi Syndrome

Standard

Gue punya kebiasaan buruk yang biasa gue sebut “Bentar-Lagi Syndrome”.
Mama : “Gih belajar, besok kan ujian!” (Teriak dari dapur)
Gue      : “Iya, bentar…” (Lanjut baca Harry Potter)
15 menit kemudian…
Mama : “Masih belum belajar juga?!” (Masih masak di dapur, nada suara lebih tinggi)
Gue     : “Iyaa… Dikiiiit lagi, nanggung”
5 menit kemudian…
Mama : (Masuk ke ruang nonton) “Masih belum belajar juga?! Mama bakar novel kamu!”
Lari ke kamar, muka manyun. Trus keluar kamar lagi, ngambil cemilan di kulkas. Belum sampai 10 menit, keluar kamar lagi. Ke dapur ngambil minum. Kapan gue belajarnya?

Nggak cuma masalah belajar, banyak lagi contoh lain dari “Bentar-Lagi Syndrome” gue. Dan korban terakhir gue adalah Backpack gue. Yang sekarang harus terkapar di lemari karena cedera. Dan gue terpaksa harus beli backpack baru 😦

 Awalnya cuma resleting kantong kecil yang samping kiri aja, agak macet. Tapi kalo pelan-pelan dan agak dipaksain sih masih bisa ditutup. Asal jangan dibuka tutup aja. Tapi akhirnya jebol juga. Rencana mau gue benerin ke tukang jahit, tapi belum sempet aja (sok sibuk). Dan akhirnya gue pakein pin bekas gue.Gue emang kadang suka bodo banget mau gimana dilihat orang. Toh cuma kantong kecil di kiri doang, siapa yang mau merhatiin. Problem solved, just for a while!

Nggak berapa hari setelah itu, ada benang yang keluar-keluar dari deket resleting utama bagian atas. Sadarnya juga pas lagi di kereta. Rencana mau gue potong pake gunting kalau udah sampai di kantor. Eh, lupa. Sampai pada suatu hari, benang yang keluar dikit itu ketarik, jadi gede karena barang-barang yang gue bawa beratnya udah kayak mau camping setiap harinya. Rusak sudah.

Inisiatif si pacar nih sekarang. “Sementara pake peniti aja. Minggu dijahit di “Stop n Go” di Mall Kelapa Gading. Akhirnya seminggu gue pake tas robek dengan peniti nenek-nenek. Hari minggu gue ke “Stop n Go” di Mall Kelapa Gading, disana terima jahit sepatu, tas, bikin duplikat kunci juga (suer, gue nggak bermaksud buat promosi).
Gue : “Mas, ini bisa dijahit lagi nggak ya?”
Mas : “Oh bisa mba, paling ditinggal aja tasnya. Ntar ini ditambel pake kulit, tapi nggak akan serapih awalnya, soalnya udah gede ini robeknya”
Gue : “Berapa mas?”
Mas : “Rp.125.000”
Gue : DEG!

Mission failed! Kemahalan. Harga jahitnya sepertiga harga tasnya. Alhasil, gue beli tas baru lagi. Dengan keadaan kere dan dengan kemurahan hati pacar. Semoga tas yang ini lebih kuat dan lebih bandel lagi.

Intinya bukan tentang gue beli backpack baru. Bukan juga tentang ke-kere-an gue (KERE, buka KEREN). Tapi ini pelajaran berharga yang kesekian kali buat gue karena bad habit gue sendiri, “Bentar-Lagi Syndrome”. Yang tadinya nggak perlu beli backpack baru, jadi sekarang harus beli backpack baru.

Nggak hanya masalah backpack robek, masalah yang kita hadapi sehari-hari pun menggunakan teori yang sama. Masalah itu jangan pernah ditunda untuk menyelesaikannya. Jangan entar-entar. Kalau kata pepatah, “Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit”. Masalah kalau didiemin, nggak diselesaikan, masalah itu nggak mungkin akan terselesaikan dengan sendirinya. Bukannya selesai, yang ada masalah tersebut jadi semakin besar dan rumit. Selesaikan sekarang juga, daripada terlambat. Dan penyesalan selalu datang pada akhirnya.

Kalau backpack atau barang yang rusak, setidaknya masih bisa beli atau ganti baru. Tapi kalau hubungan dengan keluarga, sahabat atau rekan kerja yang rusak, no one can fix it for you. You’re the only one who can fix it. Ketika sudah terlambat menyadarinya dan masalah tersebut udah nggak bisa diselesaikan, menyesal sudah.

Dan sekarang gue menyesal kenapa nggak dari awal jahit robekan kecil di tas gue. Dan kere.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s