SUPERMOM

Standard

Baru beberapa menit yang lalu sebelum gue nulis tulisan ini, gue sedang email-emailan dengan seorang kawan kuliah. Topik sore ini adalah “Ibu muda cerdas, kok cuma ngurus anak?”. Percakapan ini berawal dari email yang dia forward ke gue. Setelah baca email tersebut, gue jadi inget sama cita-cita mulia gue dulu sebelum kerja.

Dulu, gue berpikir, jika suami meminta gue untuk berhenti kerja, dengan ikhlas gue akan berhenti kerja dan mengurus suami, anak-anak dan rumah tangga. Yang terlintas dibenak gue, gue akan menyediakan sarapan untuk keluarga, belanja untuk kebutuhan rumah tangga, mengantar anak ke sekolah, menyediakan menu makanan yang lezat dan sehat setiap hari, mengajak anak-anak ke taman bermain di akhir minggu, membantu anak-anak mengerjakan tugas, membuatkan makanan kecil untuk suami dan anak-anak yang sedang nonton acara sepak bola, dan bla bla bla yang biasa dilakukan ibu rumah tangga idaman menurut pemikiran gue.

Rencana gue itu berubah drastis ketika gue mulai masuk ke dunia kerja. Gue mulai merasa nyaman dengan kegiatan gue di tempat kerja, dan dengan sedikit demi sedikit, cita-cita gue yang sebelumnya begitu indah tentang menjadi ibu rumah tangga tok tiba-tiba goyah. Gue jadi berpikir untuk tetap bekerja atau mungkin berkarier dan akan belajar untuk mengatur waktu dengan sangat baik. Gue berpikir akan melakukan hal yang sama, seperti yang gue rencanakan sebelumnya. Mulai dari menyiapkan sarapan sebelum berangkat kerja, hingga membantu anak-anak mengerjakan tugas setalah pulang kerja. Dan gue rasa, kenapa enggak? Selama gue yakin bisa mengatur waktu gue dengan baik, dan tetap keluarga nomor 1 buat gue.

Setelah gue ceritakan ke temen – temen gue, apa pendapat mereka?? Jawaban mereka beragam. Mereka bilang :

“Mungkin aja menjadi ibu rumah tangga dengan juga bekerja. Tapi kudu kerja ekstra euy, tapi bisa lah. Walopun diawal mungkin agak keteteran”.

“Wow… itu gue banget! Bekerja dan mengurus rumah tangga. Itu sulit memang, tapi buktinya banyak ibu-ibu rumah tangga yang tetap bekerja”.

“Kalo cewe tuh, kodratnya emang di rumah, ngurusin semua kebutuhan rumah tangga. Jadi terima aja!” *jujur, gue nggak setuju ama pendapat kawan yang satu ini*

“Cewek kalo jadi pegawai negeri lebih pas kali yee… Waktu untuk ngurus rumah tangga lebih banyak kan”

Ok, itu semua kan baru beberapa pendapat saja, mungkin masih banyak pendapat lain lagi yang beragam. Gue sendiri masih terus mencari tau tentang itu. Yah, sekarang yang ada di otak gue ya tetep aja rencana – rencana gue tersebut. Gue bisa atau enggak, gue belum tau jawabannya. Gue akan segera tau setelah gue menjalankan sendiri hal tersebut.

Seperti yang selalu gue tulis dan gue ulang-ulang ditulisan gue, semua orang punya pilihan dan semua pilihan pasti ada plus dan minus nya. Tinggal kita memilih, yang mana yang terbaik untuk diri kita sendiri. Dan belajarlah untuk tidak menyesali apa yang sudah terjadi. Karena apa yang sudah terjadi bukan untuk disesali, tapi jadikan sebagai pelajaran.

Yaaaak, untuk ibu – ibu, bapak – bapak, calon ibu dan calon bapak, ayo kita pikirkan gimana rencana kita. Jika dipikirkan lebih awal, mudah-mudahan kedepannya lebih baik dan lebih mudah. Amin.

Ini hanya tulisan dari seorang “gue” yang belum pernah merasakan menjadi seorang ibu yang juga bekerja. Sekarang gue hanya bekerja. Suatu saat gue akan mengalami kedua hal itu. Gue harap ada masukan dari yang sudah berpengalam dan yang akan mengalami.

Salam calon ibu rumah tangga dan pekerja. 🙂


Advertisements

4 responses »

  1. 21 years old, dan mikirnya udah gini…
    Yang gini2 yg harusnya udah mulai dipikirin..
    bukan malah ngebahas ampe semalam suntuk gosip2 kek si A lagi PDKT ama sapa, relationship-ny kek gmn, cemburuan ama sapa, mantanny dah kek apa, dkk…ha3..
    That’s a lame teenager’s stuff…LOL

    Tandany dah mulai dewasa secara mental nih…
    Dah bisa Dmet panggil “Woman”, gak “Girl” lagi, he3..
    RESPEK!! 🙂

    Dmet ikut komen yak, tapi gak perlu terlalu serius lah yak..
    Jadi, Dmet gak mo ngebahas dari sisi Islam, kodrat, dkk…

    Yep, setuju dengan “jangan jadi Ibu Rumah tangga saja”,
    yg kerjaannya nyuci piring, nyapu rumah, nyuci baju, masak2..
    emang pembantu..!! Istri kq jobdesk-ny pembantu..??
    Wkwkwkw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s