Monthly Archives: February 2010

Dreamer

Standard

Happy Long Weekend buat yang menjalani 😀 Gue bener-bener nggak pernah pengen melewatkan long weelend gue dengan cara membusuk di kostan. Itu bener-bener ide buruk 😀 Maaf ya kalo ada yang sedang melewatkan liburannya di kostan, di kantor juga mungkin. Rugi! hihihihii *ketawa puas*

Yak, seperti weekend biasa, kalo nggak pulang ke Bekasi (rumah tante), gue pasti udah kabur ke Bandung. Berhubung ada beberapa hal yang sedang gue urus *alesan*, weekend kali ini gue ke Bandung dan nginep di kostan sahabat gue, Willy.

Hal yang rutin gue, Willy, dan sahabat-sahabat gue lakukan kalo lagi pada ngumpul adalah cerita. Cerita apaaaa aja. Mulai dari kuliah, ngalor-ngidul nggak jelas, kadang cerita bohong buat ketawaan, dan banyak banget.

Nah, topik yang paling sering yang kita bahas adalah tentang EUROPEAN DREAM. Gue dan sahabat gue punya impian yang amat sangat besar menurut kita. Kita pengen banget ngerasain yang namanya ke EROPA. Mungkin ada yang bilang, “mimpi kale yee…”. Dan gue sendiri sih berpikir, bukankah suatu keinginan dapat tercapai, diawali dengan sebuah mimpi. Iya toh?

Mari kita bermimpi dan membuatnya menjadi kenyataan. Jangan cuma bermimpi doang. Bangun, dan wujudkan mimpi itu. Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini jika Tuhan menghendaki. So, jangan takut. Tuhan Maha Tahu. Dia dapat melihat siapa yang mempunyai mimpi dan berusaha untuk mewujudkannya. Dan atas kehendak Tuhan jugalah mimpi kita akan menjadi nyata.

Sejujurnya, tulisan gue kali ini gue tujukan buat diri gue sendiri. Ntah kenapa akhir-akhir ini gue ngerasa kurang motivasi dan semangat dalam mencapai impian gue. Di setiap awal February, gue selalu bilang ke diri gue sendiri, “This is my February”. Dan gue merasa banyak kejadian bahagia di February. Tapi February kali ini berbeda. Gue ngerasa February kali ini berbeda ama February-February gue sebelumnya. Ketika gue menyadarinya, gue langsung bilang ke diri gue sendiri, “Roda berputar. Nggak selalu ada di atas. Kadang ada waktunya di bawah”. Dan kalimat ini ampuh. Coba deh 🙂

Sepertinya gue out of topic banget deh, sorry… sorry… 😀

Salam nelayan,

a dreamer 🙂

mimpi adalah kunci
untuk kita menaklukkan dunia
berlarilah tanpa lelah
sampai engkau meraihnya

(Nidji – Laskar Pelangi)

Advertisements

SUPERMOM

Standard

Baru beberapa menit yang lalu sebelum gue nulis tulisan ini, gue sedang email-emailan dengan seorang kawan kuliah. Topik sore ini adalah “Ibu muda cerdas, kok cuma ngurus anak?”. Percakapan ini berawal dari email yang dia forward ke gue. Setelah baca email tersebut, gue jadi inget sama cita-cita mulia gue dulu sebelum kerja.

Dulu, gue berpikir, jika suami meminta gue untuk berhenti kerja, dengan ikhlas gue akan berhenti kerja dan mengurus suami, anak-anak dan rumah tangga. Yang terlintas dibenak gue, gue akan menyediakan sarapan untuk keluarga, belanja untuk kebutuhan rumah tangga, mengantar anak ke sekolah, menyediakan menu makanan yang lezat dan sehat setiap hari, mengajak anak-anak ke taman bermain di akhir minggu, membantu anak-anak mengerjakan tugas, membuatkan makanan kecil untuk suami dan anak-anak yang sedang nonton acara sepak bola, dan bla bla bla yang biasa dilakukan ibu rumah tangga idaman menurut pemikiran gue.

Rencana gue itu berubah drastis ketika gue mulai masuk ke dunia kerja. Gue mulai merasa nyaman dengan kegiatan gue di tempat kerja, dan dengan sedikit demi sedikit, cita-cita gue yang sebelumnya begitu indah tentang menjadi ibu rumah tangga tok tiba-tiba goyah. Gue jadi berpikir untuk tetap bekerja atau mungkin berkarier dan akan belajar untuk mengatur waktu dengan sangat baik. Gue berpikir akan melakukan hal yang sama, seperti yang gue rencanakan sebelumnya. Mulai dari menyiapkan sarapan sebelum berangkat kerja, hingga membantu anak-anak mengerjakan tugas setalah pulang kerja. Dan gue rasa, kenapa enggak? Selama gue yakin bisa mengatur waktu gue dengan baik, dan tetap keluarga nomor 1 buat gue.

Setelah gue ceritakan ke temen – temen gue, apa pendapat mereka?? Jawaban mereka beragam. Mereka bilang :

“Mungkin aja menjadi ibu rumah tangga dengan juga bekerja. Tapi kudu kerja ekstra euy, tapi bisa lah. Walopun diawal mungkin agak keteteran”.

“Wow… itu gue banget! Bekerja dan mengurus rumah tangga. Itu sulit memang, tapi buktinya banyak ibu-ibu rumah tangga yang tetap bekerja”.

“Kalo cewe tuh, kodratnya emang di rumah, ngurusin semua kebutuhan rumah tangga. Jadi terima aja!” *jujur, gue nggak setuju ama pendapat kawan yang satu ini*

“Cewek kalo jadi pegawai negeri lebih pas kali yee… Waktu untuk ngurus rumah tangga lebih banyak kan”

Ok, itu semua kan baru beberapa pendapat saja, mungkin masih banyak pendapat lain lagi yang beragam. Gue sendiri masih terus mencari tau tentang itu. Yah, sekarang yang ada di otak gue ya tetep aja rencana – rencana gue tersebut. Gue bisa atau enggak, gue belum tau jawabannya. Gue akan segera tau setelah gue menjalankan sendiri hal tersebut.

Seperti yang selalu gue tulis dan gue ulang-ulang ditulisan gue, semua orang punya pilihan dan semua pilihan pasti ada plus dan minus nya. Tinggal kita memilih, yang mana yang terbaik untuk diri kita sendiri. Dan belajarlah untuk tidak menyesali apa yang sudah terjadi. Karena apa yang sudah terjadi bukan untuk disesali, tapi jadikan sebagai pelajaran.

Yaaaak, untuk ibu – ibu, bapak – bapak, calon ibu dan calon bapak, ayo kita pikirkan gimana rencana kita. Jika dipikirkan lebih awal, mudah-mudahan kedepannya lebih baik dan lebih mudah. Amin.

Ini hanya tulisan dari seorang “gue” yang belum pernah merasakan menjadi seorang ibu yang juga bekerja. Sekarang gue hanya bekerja. Suatu saat gue akan mengalami kedua hal itu. Gue harap ada masukan dari yang sudah berpengalam dan yang akan mengalami.

Salam calon ibu rumah tangga dan pekerja. 🙂


Menghargai Orang Lain

Standard

Beberapa hari yang lalu, gue dapet email dari seorang temen kuliah gue. Kalo gue lihat dari awal, email tersebut udah di forward beberapa kali oleh beberapa orang.

Gue sangat terharu dan merinding setelah baca email tersebut. Berulang-ulang kali gue baca email tersebut, tapi perasaan haru gue nggak berubah sama sekali. Gue tertarik untuk nge-repost email tersebut di blog gue. Mudah-mudahan yang punya surat ini berkenan. Tujuan gue nge-repost sebagai motivasi buat gue pribadi. Dan mudah-mudahan bermanfaat buat banyak orang. Berikut email yang gue repost tanpa ada pengurangan dan penambahan sedikitpun pada cerita dan artikel. Gue hanya memperbaiki sedikit cara penulisannya aja.

Enjoy it!

Menghargai Orang Lain
Oleh : Andrie Wongso

Dikisahkan, di sebuah pesta perpisahan sederhana pengunduran diri seorang direktur. Diadakan sebuah sesi acara penyampaian pesan, kesan, dan kritikan dari anak buah kepada mantan atasannya yang segera memasuki masa pensiun dari perusahaan tersebut.

Karena waktu yang terbatas, kesempatan tersebut dipersilahkan dinyatakan dalam bentuk tulisan. Diantara pujian dan kesan yang diberikan, dipilih dan dibingkai untuk diabadi kan kemudian dibacakan di acara tersebut, yakni sebuah catatan dengan gaya tulisan coretan dari seorang office boy yang telah bekerja cukup lama di perusahaan itu.

Dia menulis semuanya dengan huruf kapital sebagai berikut,

“YANG TERHORMAT PAK DIREKTUR. TERIMA KASIH KARENA BAPAK TELAH MENGUCAPKAN KATA “TOLONG”, SETIAP KALI BAPAK MEMBERI TUGAS YANG SEBENARNYA ADALAH TANGGUNG JAWAB SAYA. TERIMA KASIH PAK DIREKTUR KARENA BAPAK TELAH MENGUCAPKAN “MAAF”, SAAT BAPAK MENEGUR, MENGINGATKAN DAN BERUSAHA MEMBERITAHU SETIAP KESALAHAN YANG TELAH DIPERBUAT KARENA BAPAK INGIN SAYA MERUBAHNYA MENJADI KEBAIKAN.

TERIMA KASIH PAK DIREKTUR KARENA BAPAK SELALU MENGUCAPKAN “TERIMA KASIH” KEPADA SAYA ATAS HAL-HAL KECIL YANG TELAH SAYA KERJAKAN UNTUK BAPAK.TERIMA KASIH PAK DIREKTUR ATAS SEMUA PENGHARGAAN KEPADA ORANG KECIL SEPERTI SAYA SEHINGGA SAYA BISA TETAP BEKERJA DENGAN SEBAIK-BAIKNYA, DENGAN KEPALA TEGAK, TANPA MERASA DIRENDAHKAN DAN DIKECILKAN. DAN SAMPAI KAPAN PUN BAPAK ADALAH PAK DIREKTUR BUAT SAYA. TERIMA KASIH SEKALI LAGI. SEMOGA TUHAN MERIDHOI JALAN DIMANAPUN PAK DIREKTUR BERADA. AMIN.”

Setelah sejenak keheningan menyelimuti ruangan itu, serentak tepuk tangan menggema memenuhi ruangan. Diam-diam Pak Direktur mengusap genangan airmata di sudut mata tuanya, terharu mendengar ungkapan hati seorang office boy yang selama ini dengan setia melayani kebutuhan seluruh isi kantor.

Pak Direktur tidak pernah menyangka sama sekali bahwa sikap dan ucapan yang selama ini dilakukan, yang menurutnya begitu sederhana dan biasa-biasa saja, ternyata mampu memberi arti bagi orang kecil seperti si office boy tersebut.
Terpilihnya tulisan itu untuk diabadikan, karena seluruh isi kantor itu setuju dan sepakat bahwa keteladanan dan kepemimpinan Pak Direktur akan mereka teruskan sebagai budaya di perusahaan itu.

Pembaca Yang Budiman,

Tiga kata “terimakasih, maaf, dan tolong” adalah kalimat pendek yang sangat sederhana tetapi mempunyai dampak yang positif. Namun mengapa kata-kata itu kadang sangat sulit kita ucapkan? Sebenarnya secara tidak langsung telah menunjukkan keberadaban dan kebesaran jiwa sosok manusia yang mengucapkannya. Apalagi diucapkan oleh seorang pemimpin kepada bawahannya.

Pemimpin bukan sekedar memerintah dan mengawasi, tetapi lebih pada sikap keteladanan lewat cara berpikir, ucapan, dan tindakan yang mampu membimbing, membina, dan mengembangkan yang dipimpinnya sehingga tercipta sinergi dalam mencapai tujuan bersama.

Tentu bagi siapapun kita perlu membiasakan mengucapkan kata-kata pendek seperti terima kasih, maaf, dan tolong dimana pun, kapan pun, dan dengan siapa pun kita berhubungan. Dengan mampu menghargai orang lain minimal kita telah menghargai diri kita sendiri.